Keep Calm and Write On

Hari ini saya pergi ke Deoni, salah satu toko stationary di Bandar Lampung. Jaraknya cukup dekat dengan rumah jadi Rayyaan juga saya ajak ke sana. Begitu masuk langsung disuguhi display pensil warna, spidol warna-warni dan krayon. Gregetan melihatnya, rasanya mau langsung borong deh itu warna-warninya. Masuk lebih dalam lagi, saya melihat buku catatan yang biasanya banyak dipakai untuk jurnal harian, bukunya unyu-unyu dengan harga relatif murah (buku catatan fancy macam ini di toko buku harganya bisa dua kali lipat). Salah satunya buku ini. Sempat beberapa saat memegang-megang, mempertimbangkan untuk membeli buku dengan nuansa cokelat. Warna kertasnya seperti kertas daur ulang, kertasnya pun tebal, desain covernya cantik dan halaman-halaman di dalamnya pun ada yang dihiasi gambar-gambar menarik.

Namun akhirnya pilihan jatuh pada buku berwarna oranye ini. Desainnya simpel, kertasnya bagus dan tebal, dan kalimat pada covernya itu lho yang nampol banget “KEEP CALM AND WRITE ON”. Ini buku seolah menyentil saya yang postingan blognya di bulan Februari minim banget he he. Berbagai hal memang membuat blogging jadi aktivitas nomor sekian. Bulan Februari lalu Rayyaan sempat mengalami gangguan pencernaan dan batuk pilek walau tidak parah, mudik ke rumah mertua selama beberapa hari, mengurusi orderan online shop, dan silaturahim dengan keluarga. Menulis corat-coret di kertas pun terlewat. Saat mau beli buku ini ada perasaan sayang buku sebagus ini mau diisi dengan tulisan saya yang nggak karuan. Nggak sampai taraf tulisan cakar ayam siiiiih, cuma nggak rapi aja he he. Terakhir menulis rapi ya jaman kuliah. Sekarang kalau mau menulis rapi harus pelan-pelan. Honestly, tulisan si Papa saja masih lebih bagus dan rapi dibanding tulisan saya (tutup muka ha ha). Tapi tetap deh nekad beli buku ini. Pokoknya mau tulisannya ‘cantik’ walau yang ditulis ya cuma curhatan hati ya tetap nulis.

Seringkali sebenarnya ide muncul saat saya tidak sedang pegang laptop. Mau ngetik di smartphone atau tablet PC tapi ya tetap nggak marem. Ini nih jeleknya saya, males nulis kalau nggak pakai laptop, tapi pas pegang laptop ada kerjaan lain yang harus diselesaikan lebih dulu, kerjaan selesai anak bangun he he. Tapi walau sekarang era digital, sebenarnya saya senang kalau melihat ada orang yang masih telaten nulis jurnal di buku. Dulu saat mengikuti seminar tentang mengajar, si pembicara bercerita bahwa ia lebih suka membaca buku cetak dibanding ebook, karena buku cetak itu untuk dia lebih nyata secara fisik. Dengan menyentuh covernya, menyentuh dan membuka lembaran bukunya, isi buku itu jadi lebih mudah dipahami. Soal lebih suka buku cetak atau buku digital mungkin kembali ke selera masing-masing ya, ada yang lebih memilih ebook karena hemat kertas dan ramah lingkungan.

Kembali ke buku jurnal harian, jadi bismillah saya beli buku ini plus sebuah drawing pen (kertasnya asli tebal dan agak licin, tinta pena biasa kurang nampol untuk saya yang menulisnya nggak pakai menekan ujung pena he he). Mau tulisan saya kurang rapi, mau yang ditulis hal remeh-temeh, pokoknya Keep Calm and Write On!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s