Mudik Bersama Rayyaan

Akhirnya bisa posting lagi di blog ini setelah tiga hari absen. Sabtu kemarin saya absen ngeblog karena persiapan mudik bersama Rayyaan untuk keesokan harinya. Senin kemarin ternyata badan ini masih terasa sangat lelah sehingga tidak bisa menyempatkan diri untuk ngeblog. Hari ini sebenarnya saya masih merasa agak mengantuk, ntah ini efek perjalanan mudik atau karena cuaca mendung ya? Agar ngantuknya berkurang mari ngeblog saja, menuliskan pengalaman pertama kali mudik berdua dengan balita.

Saya, Rayyaan dan papanya dijemput oleh supir jam 7 pagi meskipun jadwal penerbangan kami masih pukul 10.50 WITA. Ini untuk menghindari kemacetan. Pasca diterjang banjir bandang, kota Manado memang lebih rawan macet ntah karena ada lampu lalu lintas yang masih rusak, jalan berlubang atau bahkan ambles, sampah bekas banjir dan lain sebagainya. Kira-kira 45 menit kemudian kami tiba di Bandara Sam Ratulangi. Sesuai rencana, saya membawa tiga buah tas yaitu ransel, tas perlengkapan Rayyaan, dan travel bag ukuran sedang. Setelah menyerahkan travel bag ke petugas untuk dimasukkan ke bagasi pesawat, kami menunggu waktu boarding sambil sarapan di sebuah restoran cepat saji. Khusus untuk Rayyaan saya suapi nasi tim yang saya masak sebelumnya.

Kira-kira 30 menit sebelum waktu penerbangan, para penumpang dipanggil untuk memasuki ruang tunggu. Setelah berpamitan dengan Papa, saya dan Rayyan bergegas ke ruang tunggu. Alhamdulillah penerbangannya tepat waktu. Saat memasuki pesawat Rayyaan sudah tertidur di gendongan saya. Kira-kira satu jam lamanya ia tertidur. Ia bahkan tidak terbangun saat pramugari berkeliling membagikan makan siang. Diam-diam saya bersyukur, karena kalau Rayyaan bangun pasti sudah sibuk ingin ikut memegang ini-itu he he. Saat Rayyaan sudah bangun ia segera saya beri roti dan setelkan program kesukaannya yaitu Hi-5. Saat ia sudah kenyang dan bosan menonton, iapun mulai memencet tombol dan layar monitor di depannya. Biar deh, yang penting Rayyaan tidak rewel dan monitornya tidak rusak he he. Bosan memainkan layar monitor, ia memainkan apa saja yang bisa dimainkan mulai dari majalan, headphone, permen, bahkan sempat bermain ciluk ba dengan penumpang lain. Alhamdulillah ia bisa dibilang tidak rewel selama di perjalanan.

Pesawat kami tiba di Bandara Soekarno Hatta kurang lebih jam 1 siang waktu setempat. Karena padatnya bandara ini, sepertinya pesawat yang kami naiki harus mengantri untuk bisa mendekat ke gedung. Setelah itu kami masih harus naik bis dan melapor ke petugas di bagian penerbangan transit. Akhirnya saya dan Rayyaan tiba di gate F6 kira-kira 30 menit kemudian. Saya lalu bergegas ke toilet dan mushola. Lumayan repot memang jika harus ke toilet dan mushola sambil menggendong anak sambil membawa tas ransel dan tas perlengkapan. Namun kondisi toilet, tempat wudhu serta mushola yang bersih dan cukup aman mengurangi kerepotan saya. Setidaknya saya tidak perlu khawatir untuk menggantungkan tas saya di bilik toilet atau meninggalkan tas saya sebentar saat wudhu. Untuk sholat, saya memilih posisi di pojok ruangan agar Rayyaan tidak menjelajah kemana-mana he he.

Jam 2 siang kami kembali ke ruang tunggu. Masih 1 jam lebih sebelum penerbangan ke Tanjung Karang (Bandar Lampung). Sambil menunggu, Rayyaan saya suapi dengan nasi tim. Setelah kenyang iapun mondar-mandir di ruang tunggu sambil bermain. Pukul 3 sore, penumpang yang menuju ke Tanjung Karang dipanggil untuk memasuki pesawat. Kira-kira pukul 3.30 WIB pesawatpun berangkat. Setengah jam kemudian pesawat mendarat di Bandara Raden Inten II. Setelah mengambil travel bag dengan bantuan porter, akhirnya saya dan Rayyaan bertemu dengan Eyangkung yang sudah menjemput kami. Pukul 5.30 WIB kami sampai di rumah disambut oleh Eyangtinya Rayyaan. Senang bisa tiba di rumah dengan selamat.

Berpergian dengan balita memang membutuhkan banyak bawaan. Meskipun tas ransel dan perlengkapan bayinya lumayan berat, namun lebih baik saya membawa semua barang itu untuk berjaga-jaga. Sebelumnya sudah dua kali saya harus menginap di hotel di sekitar bandara karena delay dan ketinggalan penerbangan selanjutnya. Untuk beberapa barang seperti laptop, tablet PC serta kamera memang bukan termasuk kebutuhan Rayyaan, tapi kebutuhan Mamanya selama mudik he he. Barang-barang ini tentu tidak bisa dimasukkan ke travel bag dan bagasi pesawat. Alhamdulillah di perjalanan ada beberapa penumpang lain yang menawarkan diri membawa dan mengangkat tas perlengkapannya Rayyaan. Meskipun sesudah perjalanan ini badan terasa pegal-pegal, saya bersyukur mudik bersama Rayyaan kali ini berjalan aman dan lancar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s